Kamis, 03 September 2015

HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KEJADIAN ISPA DI KELURAHAN BENER, TEGALREJO, YOGYAKARTA, TAHUN 2014

Deavita Intan Pradani*, Sri Muryani**, Achmad Husein**

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: deavitaintanpradani@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

As the medium for life development and the place for family member to get on together spending most of their times, a house shoud be healthy and comfortable. Unhealthy house is closely rela-ted with the increase of ARI incidence, which is included in the top 10 diseases among the ser-vice area of Tegalrejo Community Health Centre. A preliminary survey held in Kelurahan Bener, showed that 39% houses were identified unhealthy, 53% less healthy, and only 8% were healthy. This study were aimed to determine the relationship between house physical environment condi-tion and ARI incidence in that kelurahan by conducting a retrospective case-control study. Mem-ber of the case group were 30 new ARI cases sought for medication to the community health centre who were sampled randomly; meanwhile as the control group, 30 non-ARI close neighbors who have similar characteristics with each case were selected. The observation of the physical condition parameters, i.e. ventilation width, and indoor temperature, humidity and lighting, was using proper instruments and were averaged from three measurements. The results show that the parameters under study which have significant association with ARI incidence are: indoor hu-midity (OR: 3,82; 95% CI: 1,15-12,71; p-value: 0,024) and indoor lighting (OR: 4,00; 95% CI: 1,37-11,70; p-value: 0,009); meanwhile, those which are not related, are ventilation width (OR: 1,80; 95% CI: 0,39-8,32; p-value: 0,448) and indoor temperature (OR: 3,79; 95% CI: 0,75-10,33; p-value: 0,117).      
    
Keywords : house physical condition, ventilation width, indoor temperature, indoor humidity
                    indoor lighting, acute respiratory infection

Intisari

Sebagai sarana pengembangan kehidupan dan tempat berkumpul anggota keluarga untuk meng-habiskan sebagian besar waktu, rumah harus nyaman dan sehat. Rumah yang tidak sehat erat kaitannya dengan peningkatan kejadian ISPA. ISPA masuk dalam 10 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo. Hasil survei pendahuluan di Kelurahan Bener diperoleh hasil 39 % rumah tidak sehat, 53 % kurang sehat, dan hanya 8 % yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA di kelurahan tersebut dengan melakukan studi kasus kontrol. Kelompok kasus adalah rumah 30 kasus baru ISPA yang datang berkunjung ke Puskesmas Tegalrejo yang dipilih secara random, sementara kelompok kontrol adalah 30 rumah tetangga dekat kasus yang tidak menderita ISPA dan memiliki karakteristik yang hampir sama. Pengukuran parameter kondisi fisik rumah yang meliputi luas ventilasi, suhu, kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah, masing-masing menggunakan instrumen pengukur yang sesuai dan dihitung rerata dari tiga kali pengukuran. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dari keempat parameter yang diteliti, yang berhubungan dengan kejadian ISPA adalah kelembaban (OR: 3,82; 95% CI: 1,15-12,71; p: 0,024) dan pencahayaan (OR: 4,00; 95% CI: 1,37-11,70; p: 0,009), sementara yang tidak berhubungan adalah luas ventilasi (OR: 1,80; 95% CI: 0,39-8,32; p: 0,448) dan suhu di dalam rumah (OR: 3,79; 95% CI: 0,75-10,33; p: 0,117).
     
Kata Kunci : kondisi fisik rumah, luas ventilasi, suhu rumah, kelembaban rumah, pencahayaan rumah, ISPA 

 Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 193 -200




Rabu, 02 September 2015

HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DI DALAM RUMAH DAN PENGGUNAAN OBAT NYAMUK BAKAR DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN SEMARANG, KECAMATAN BANJARNEGARA, KABUPATEN BANJARNEGARA



Farah Debby Pangestika*, Sigid Sudrayanto**, Yamtana**

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: pfarahdebby@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta



Abstract

The incidence of ARI among under five children in Indonesia is still high. It is presumed that one of the causes is indoor pollution due to smoking and mosquito coils using. The purpose of this research was to prove the relationship between both behaviors and ARI incidence among under five children in Kelurahan Semarang Kecamatan Banjarnegara by conducting a case control stu-dy. There were 30 children for each groups and the data were collected by using questionnaire and were analysed by using Odds Ratio calculations at 95% confidence level to identify the magnitude of the risks. The results show that OR for indoor smoking is as much as 3,05 (95% CI: 1,05-8,84) with p-value less than 0,001; and OR for mosquito coils using is 3,14 (95% CI: 1,07-9,27) with p-value less than 0,001, as well. It can be concluded that those two variables un-der study are risk factors for ARI incidence among under five children in the study site.
    
Keywords : indoor smoking, mosquito coils, acute respiratory infection, under five children

Intisari

Angka kejadian ISPA pada balita di Indonesia masih tinggi Diduga salah satu penyebabnya adalah polusi dalam ruangan akibat kegiatan merokok dan penggunaan obat nyamuk bakar. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara perilaku merokok di dalam rumah dan penggunaan obat nyamuk bakar tersebut dengan kejadian ISPA pada balita di Kelu-rahan Semarang Kecamatan Banjarnegara dengan melakukan studi kasus kontrol, dengan ma-sing-masing 30 balita di dalam setiap kelompok. Data dikumpulkan dengan menggunakan kue-sioner dan dianalisis menggunakan perhitungan Odds Ratio untuk mengetahui besarnya risiko pada derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OR untuk perilaku me-rokok adalah sebesar 3,05 (95% CI: 1,05-8,84) dengan p<0 1="" 3="" adalah="" bagi="" bahwa="" bakar="" balita="" ci:="" dan="" dapat="" dari="" dengan="" di="" disimpulkan="" diteliti="" faktor="" hasil="" ispa="" kedua="" lokasi="" menggunakan="" merupakan="" nyamuk="" obat="" or="" p="" pada="" penelitian.="" ri-siko="" sebesar="" span="" ter-sebut="" terjadinya="" tersebut="" untuk="" variabel="" yang="">
   
Kata Kunci : merokok dalam rumah, obat nyamuk bakar, ISPA, balita 

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 188 - 192

HUBUNGAN INTENSITAS PENCAHAYAAN DAN PENATAAN KAMAR DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR DI RUMAH KOS PUTRI KAJOR, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA



Febi Hidayani*, Tuntas Bagyono**, F. X. Amanto Rahardjo**

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293
email: velodixis@gmail.com
** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

Boarding houses rent rooms for temporary stays. For students who living far from parents these places are their second home because almost of their activities are carried out in the room, in-cluded studying which needs high concentration. Based on the preliminary survey held in the fe-male boarding houses located behind the Polytechnic of Health of Yogyakarta, it was found that the average measurement of light intesity was 24,81 lux and most rooms had unsuited room ar-rangement. The purpose of this study was to determine the relationship between light intensity and room arrangement and the level of studying concentration among the Female Boarding Hou-se of Kajor, by conducting a cross sectional approached survey. There were 60 boarding rooms under the study with 60 students occupant who were selected purposively as the respondents. The light intensity was measured by lux meter, the room arrangement was assessed by a check list and the studying concentration was identified by using a questionnaire. The results show that only 46,7% rooms had adequate light intensity, only 48,3% rooms had suited room arrange-ment, and respondents who had bad concentration outnumbered those who had the good ones. Data analysis with using Spearman rank correlation test at 5% significance level, concludes that both light intensity and room arrangement are significantly have high and positive correlations with studying concentration, i.e. the corresponding ρ coefficients were 0,991 and 0,951, respecti-vely, and the all p-values were below 0,001.
    
Keywords : light intensity, room arrangement, studying concentration, boarding house

Intisari

Rumah kos menyewakan kamar yang digunakan untuk tinggal sementara, di mana bagi maha-siswa perantau, tempat itu merupakan rumah ke dua karena hampir segala jenis kegiatan di-lakukan di dalamnya termasuk aktifitas belajar yang membutuhkan konsentrasi. Berdasarkan survei pendahuluan di rumah kos putri yang berada di belakang kampus Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, diperoleh rerata hasil pengukuran pencahayaan sebesar 24,81 lux dan sebagian besar penataan barang di kamar-kamar kos tersebut kurang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitas pencahayaan dan penataan kamar dengan ting-kat konsentrasi belajar di Rumah Kos Putri Kajor dengan melakukan penelitian survei dengan pendekatan cross sectional. Ada 60 kamar kos yang diteliti dengan 60 orang penghuni sebagai responden yang diambil secara purposive. Intensitas cahaya diukur dengan lux meter, penataan ruang dinilai dengan check list, dan konsentrasi belajar diketahui melalui kuesioner. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa kamar kos yang pencahayaannya memenuhi syarat hanya 46,7% dan yang penataannnya baik hanya 48,3 %, diketahui pula bahwa responden yang konsentrasi belajarnya buruk lebih banyak dibandingkan dengan yang baik. Analisis dengan menggunakan uji korelasi rank Spearman pada taraf signifikansi 5 % menyimpulkan bahwa intensitas pencaha-yaan dan penataan kamar, secara bermakna berhubungan erat dan positif dengan konsentrasi belajar, yaitu masing-masing dengan koefisien ρ sebesar 0,991 dan 0,951, dengan semua nilai p < 0,001.
   
Kata Kunci : intensitas pencahayaan, penataan kamar, konsentrasi belajar, rumah kos

 Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.6, No.4, Mei 2015, Hal 181 - 187